Ajaran Politik Niccolo Machiavelli

Tulisan Ilmiah Populer

Carles Nono  |  28 July 2026  |  86 kali dilihat

Foto Artikel

Dalam sejarah pemikiran politik, sedikit sekali karya yang menimbulkan pengaruh sekaligus ketakutan seperti The Prince karya Niccolò Machiavelli. Buku tersebut, yang ditulis pada awal abad ke-16, sering dipandang sebagai pedoman paling telanjang mengenai cara memperoleh, mempertahankan, dan mengokohkan kekuasaan. Gereja Katolik pernah melarang penyebarannya selama lebih dari dua abad. Para pemimpin politik, tokoh militer, pengusaha, dan bangsawan menjadikannya rujukan; sebagian menjalankannya secara terang-terangan, sebagian lainnya menjalankannya secara tersembunyi.

Masa Muda Machiavelli dan Latar Belakang Geopolitik Italia

Niccolò Machiavelli lahir pada 3 Mei 1469 di Florence, sebuah kota yang berada di tengah pergolakan politik Italia. Pada masa itu, Italia belum menjadi negara-bangsa yang bersatu. Italia pada waktu itu terdiri atas banyak negara-kota seperti Florence, Venice, Milan, dan Naples. Negara kota ini saling bersaing dan sering menjadi target invasi dari kekuatan asing seperti Perancis, Spanyol, dan Kekaisaran Romawi Suci.

Di masa mudanya, Machiavelli menyaksikan berbagai peristiwa besar yang membentuk pandangannya. Ia melihat konspirasi keluarga Pazzi terhadap keluarga Medici, menyaksikan kepemimpinan moralistik Savonarola, dan menyaksikan jatuh bangunnya para penguasa Florence. Ia juga melihat korupsi para Paus serta ketidakstabilan politik yang dihasilkan oleh perang, intrik keluarga bangsawan, dan perebutan kekuasaan yang tak kunjung berhenti. Semua pengalaman tersebut kelak menjadi fondasi pemikirannya.

Karier Politik dan Kejatuhan Machiavelli

Setelah Savonarola dihukum mati dan Florence kembali dipimpin oleh sistem republik, Machiavelli masuk ke dalam pemerintahan. Ia bekerja di kantor kanselari dan menjalankan misi diplomatik ke berbagai wilayah Italia dan Eropa. Pengalamannya berhadapan langsung dengan para penguasa seperti Cesare Borgia memperkaya pemahamannya mengenai kekuasaan yang bertumpu pada kekuatan militer, kelicikan politik, dan kemampuan membaca peluang.

Namun, pada tahun 1512, keluarga Medici kembali berkuasa dan menuduh Machiavelli terlibat dalam konspirasi. Ia dipenjara, disiksa, dan akhirnya diasingkan ke pedesaan. Dalam keterasingan tersebut, Machiavelli menulis The Prince, karya yang kelak menjadi pusat kontroversi dunia politik.

Politik dalam The Prince

The Prince ditulis bukan sebagai gagasan ideal mengenai bagaimana penguasa seharusnya bertindak, melainkan sebagai analisis realistis mengenai bagaimana penguasa memang bertindak. Machiavelli memulai tulisannya dengan asumsi dasar bahwa sifat manusia cenderung tidak stabil, oportunis, dan mudah mengkhianati kepentingannya sendiri. Dengan pemikiran tersebut, ia menyampaikan beberapa prinsip utama.

1. Penguasa harus siap menggunakan cara apa pun

Menurut Machiavelli, tindakan yang keras, manipulatif, bahkan kejam dapat dibenarkan apabila tindakan tersebut menjaga stabilitas negara dan keselamatan kekuasaan. Ia menegaskan bahwa tujuan dapat membenarkan cara apabila manfaat politik yang dihasilkan lebih besar daripada kerugiannya.

2. Rasa takut lebih stabil dibanding rasa cinta

Machiavelli menjelaskan bahwa rasa cinta bersifat rapuh dan bergantung pada kondisi. Sebaliknya, rasa takut cenderung bertahan dan memberikan kontrol yang lebih kuat. Ia menyarankan penguasa untuk ditakuti, bukan dibenci, karena kebencian akan memicu perlawanan.

3. Kekuasaan harus diperkuat melalui tindakan yang cepat

Menurut Machiavelli, penguasa yang harus melakukan tindakan kejam sebaiknya melakukannya sekaligus, bukan perlahan. Luka besar melemahkan lawan dan menghentikan balas dendam sedangkan luka kecil menimbulkan dendam yang dapat membahayakan penguasa.

4. Militer adalah dasar dari negara

Machiavelli menekankan bahwa negara yang kuat harus memiliki pasukan sendiri. Ia menolak ketergantungan pada tentara bayaran atau pasukan pinjaman dari sekutu, karena keduanya tidak loyal dan berpotensi menyeret negara ke dalam kekacauan.

Pengamatan Machiavelli terhadap Berbagai Bentuk Kekuasaan

Machiavelli menjelaskan bahwa setiap bentuk kekuasaan memiliki karakteristik dan risiko masing-masing.

1. Kerajaan tersentralisasi

Kerajaan yang dipimpin oleh satu penguasa tunggal sulit ditaklukkan, tetapi mudah dipertahankan setelah penguasa lama dijatuhkan.

2. Kerajaan feodal

Kerajaan ini mudah ditaklukkan karena banyaknya bangsawan yang bersaing, tetapi sulit dipertahankan karena mereka memiliki basis kekuatan sendiri.

3. Republik yang merdeka

Republik yang kuat dan memiliki hukum sendiri merupakan bentuk yang paling sulit dikendalikan. Menurut Machiavelli, penguasa dapat mempertahankannya hanya dengan menghancurkan struktur politiknya, memerintah langsung dari wilayah tersebut, atau menempatkan oligarki yang setia.

Tokoh-Tokoh yang Menginspirasi Machiavelli

Machiavelli tidak menulis berdasarkan teori abstrak, tetapi berdasarkan contoh nyata. Berikut adalah para tokoh yang menginspirasi Machiavelli.

1. Cesare Borgia

Ia menjadi contoh utama penguasa yang mampu memadukan kecerdikan, kekejaman, dan kelihaian politik. Borgia menggunakan kekerasan untuk mengendalikan wilayah, memanipulasi sekutu, dan menghancurkan lawannya dengan cara yang efektif.

2. Agathocles dan Oliverotto

Dua tokoh ini memperoleh kekuasaan melalui pembunuhan massal. Machiavelli mengakui kemampuan mereka dalam mempertahankan kekuasaan, tetapi ia menolak menyebut tindakan mereka sebagai kebajikan.

Hubungan antara Rakyat, Elit, dan Penguasa

Machiavelli memandang masyarakat terdiri atas dua kelompok besar, yaitu kaum elit yang ingin menguasai dan rakyat yang tidak ingin ditindas. Penguasa yang bergantung pada elit akan menghadapi tekanan terus-menerus karena para bangsawan merasa setara dengannya. Sebaliknya, penguasa yang mendapatkan dukungan rakyat cenderung lebih stabil, karena rakyat hanya menginginkan keamanan dan ketertiban.

Sikap dan Kewajiban Penguasa

Machiavelli memberikan beberapa nasihat penting, seperti:

1. Penguasa harus menguasai seni perang dan memahami keadaan wilayahnya.

2. Penguasa harus tampak memiliki sifat-sifat baik, tetapi harus mampu meninggalkannya ketika keadaan menuntut.

3. Penguasa tidak boleh terlalu dermawan karena kedermawanan yang berlebihan akan melemahkan negara.

4. Penguasa harus menjaga agar rakyat tidak membencinya, terutama dengan tidak mengganggu harta dan keluarga mereka.

5. Dalam konflik internasional, penguasa harus memilih sekutu; sikap netral akan membuatnya lemah.

Mengapa The Prince Dianggap Berbahaya?

The Prince menimbulkan ketakutan bukan karena mengajarkan penguasa untuk menjadi jahat, melainkan karena membuka kenyataan yang selama ini ditutupi. Machiavelli menegaskan bahwa kekuasaan tidak selalu berjalan seiring dengan moralitas, dan bahwa stabilitas negara kadang membutuhkan keputusan yang sulit dan tidak menyenangkan. Melalui buku ini, ia mengingatkan bahwa politik adalah dunia yang tidak tunduk pada aturan moral yang ideal, tetapi tunduk pada realitas manusia dan kekuatannya.

Daftar Pustaka

Machiavelli, Niccolò. Sang Penguasa (Il Principe). Terj. Koesalah Soebagyo Toer. Jakarta: PT Gramedia, 1987.

Skinner, Quentin. Niccolò Machiavelli: Sebuah Pengantar Singkat. Yogyakarta: Basabasi, 2022.

Haryatmoko. Etika Politik dan Kekuasaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011.(memuat pembahasan mendalam tentang Machiavelli dalam konteks etika kekuasaan)

Firdaus, M. Sejarah Pemikiran Politik: Dari Machiavelli sampai John Rawls. Jakarta: Kencana, 2018.

Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Depok: Kanisius, 2012.

Machiavelli, Niccolò. The Prince. Edited by Quentin Skinner and Russell Price. Cambridge: Cambridge University Press, 1988.

Viroli, Maurizio. Niccolò’s Smile: A Biography of Machiavelli. New York: Farrar, Straus and Giroux, 2002.

Skinner, Quentin. Machiavelli: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press, 2019.

Pocock, J. G. A. The Machiavellian Moment: Florentine Political Thought and the Atlantic Republican Tradition. Princeton: Princeton University Press, 1975.

Gilbert, Felix. Machiavelli and Guicciardini: Politics and History in Sixteenth-Century Florence. Princeton: Princeton University Press, 1965.

Najemy, John M. A History of Florence 1200–1575. Oxford: Blackwell Publishing, 2006.(salah satu sumber terbaik mengenai konteks politik di mana Machiavelli hidup dan menulis)

Bock, Gisela (ed.). The Cambridge Companion to Machiavelli. Cambridge: Cambridge University Press, 2010.(kumpulan esai akademik otoritatif tentang pemikiran Machiavelli).

 

Penulis adalah Mahasiswa Filsafat, UNWIRA Kupang dan Anggota Organisasi Astria Initia

 

Bagikan Artikel Ini
Untuk Instagram, klik "Salin Link" lalu tempel di Story atau DM kamu.
Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!