Kolaborasi Lintas Ilmu, Mahasiswa KKN Desa Binaan Kelompok 4 UNWIRA Rancang Program Pemberdayaan di Dusun Tuamese
Kelompok 4 bertemu Kepala Desa Nekmese, garap potensi kelapa, pisang, dan kemiri lewat sains dan teknologi
14 July 2026 | Nekmese, Kabupaten Kupang NTT | 276 kali dilihat
Kelompok 4 KKN Program Desa Binaan UNWIRA Kupang foto bersama Kepala Desa Nekmese di kantor Desa Nekmese, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang.
KUPANG, ASTRIAINITIA.COM-Kelompok 4 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Desa Binaan Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang menggelar pertemuan dengan Kepala Desa Nekmese, Krisma J. Baok, pada Sabtu (11/7/2026) sore, di lokasi penginapan kelompok di Dusun Tuamese, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang. Nama Nekmese berasal dari bahasa Timor, “neka” (hati) dan “mese” (satu), yang berarti “Satu Hati”, filosofi lahirnya desa ini dari penyatuan lima dusun, yakni Naet, Koro Oto 1, Koro Oto 2, Tuamese, dan Foasa, pada 1971. Krisma J. Baok tercatat sebagai kepala desa yang telah menjabat kurang lebih 14 tahun. Desa yang dihuni 2.338 jiwa dari 590 kepala keluarga ini terbagi dalam lima dusun, dengan mayoritas warga bermata pencaharian sebagai petani lahan kering dan hortikultura.
Pertemuan antara Kades Krisma dan kelompok 4 yang merupakan bagian dari 78 mahasiswa lintas 11 program studi dan enam fakultas UNWIRA membahas kesiapan tempat tinggal, hubungan kelompok dengan warga sekitar, hingga rancangan program kerja yang akan dijalankan selama sebulan penuh. Program yang berlangsung hingga 10 Agustus 2026 itu difokuskan pada sejumlah isu prioritas pembangunan desa, di antaranya pencegahan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, peningkatan literasi, pelestarian budaya lokal, pengelolaan air bersih, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah.
Dalam pertemuan tersebut, Kades Krisma menyampaikan bahwa “kelapa, pisang, dan kemiri merupakan tiga komoditas unggulan Nekmese yang selama ini hanya dipandang warga sebagai sumber uang instan, dijual mentah tanpa pengolahan lebih lanjut”. Menurutnya, masyarakat belum sepenuhnya menyadari bahwa ketiga komoditas ini berpotensi diolah menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing, asalkan tersedia pengetahuan dan pendampingan yang memadai. Ia juga menyoroti keterbatasan sumber daya manusia sebagai kendala utama yang dihadapi desa selama ini.
Menjawab persoalan tersebut, kelompok 4, yang beranggotakan 14 mahasiswa lintas program studi arsitektur, teknik sipil, ilmu komputer, manajemen, ilmu hukum, administrasi publik, bahasa Inggris, bimbingan konseling, teknologi pangan, dan kimia murni, merancang tiga program kerja utama. Pertama, pembangunan penunjuk jalan di setiap RT di Dusun Tuamese. Kedua, pengolahan pisang menjadi anggur pisang sebagai produk bernilai tambah, sejalan dengan arah hilirisasi komoditas pisang yang belakangan juga didorong Kementerian Perindustrian di sejumlah daerah NTT lain. Ketiga, produksi pupuk cair dan pupuk padat berbasis budi daya maggot black soldier fly (BSF), yang sekaligus menghasilkan pakan ternak alternatif dari limbah organik.
Kombinasi hilirisasi hasil kebun dan pengolahan limbah organik menjadi pupuk ini merujuk pada pola yang telah terbukti di berbagai program pengabdian masyarakat serupa: pengolahan sampah organik melalui maggot BSF menghasilkan kascing (kasgot) yang layak dipakai sebagai pupuk organik sekaligus pakan ternak bernutrisi tinggi, sehingga menekan biaya pakan dan pupuk kimia bagi petani. Pendekatan ini konsisten dengan temuan sejumlah kajian hilirisasi komoditas perkebunan yang menyoroti rendahnya produktivitas kebun rakyat dan lemahnya kelembagaan petani sebagai akar masalah yang perlu diintervensi lewat sentuhan teknologi dan pendampingan, bukan sekadar bantuan modal.
Kades Krisma menyatakan dukungan penuh terhadap rencana kerja kelompok 4 dan memastikan kebutuhan teknis di lapangan, mulai dari lokasi, bahan baku, hingga keterlibatan warga yang akan difasilitasi pemerintah desa. Seluruh hasil dari ketiga program ini rencananya akan dipamerkan pada 9 Agustus 2026, bersamaan dengan agenda pementasan seni yang menjadi penutup rangkaian Program Desa Binaan di Nekmese. Bagi kelompok 4, momentum tersebut sekaligus menjadi ajang pembuktian bahwa kolaborasi lintas ilmu mampu menerjemahkan potensi lokal menjadi produk nyata yang bisa dinikmati dan direplikasi warga secara mandiri setelah masa KKN berakhir.
Penulis: Arnoldus Jansen Goru
Editor: Seran Sebho
Bagikan Berita Ini
Untuk Instagram, klik "Salin Link" lalu tempel di Story atau DM kamu.Komentar (1)
Linda kase
14 Jul 2026, 10:38Selamat berjuang, kalian bukan cuma mahasiswa, kalian harapkan kecil untuk desa itu.... semngat